Seruan Azan itu sunnah atau tajwid?
Mari kita perjelas terlebih dahulu:
Azan adalah panggilan/seruan untuk
menunaikan shalat.
Tajwid adalah ilmu tentang cara membaca Al-Qur'an dengan
benar (makhraj, sifat huruf, dll).
1. Azan itu Hukumnya Sunnah Muakkadah (sangat
dianjurkan)
- Azan
disyariatkan dalam Islam sebagai penanda masuk waktu shalat dan seruan
bagi umat Muslim.
- Hukumnya sunnah
muakkadah (bahkan mendekati wajib untuk shalat berjamaah) menurut
mayoritas ulama, bukan fardhu.
- Jadi, azan
adalah bagian dari syariat/sunnah Nabi ﷺ, bukan sekadar
"tajwid".
2. Membaca Azan dengan Tartil/Kaedah yang Benar
- Meskipun
azan bukan bacaan Al-Qur'an, tapi dalam melantunkannya ada kaedah-kaedah
tertentu (seperti panjang pendek, lagu yang diperbolehkan, dan
adab-adabnya).
- Ini
bukan "tajwid" dalam arti ilmu tajwid Al-Qur'an, tetapi
lebih pada tartil atau cara melantunkan azan yang sesuai contoh
Nabi ﷺ.
- Beberapa
kaidah serupa tajwid (seperti mad, ghunnah) mungkin diterapkan secara
alami, tapi tidak sebaku dalam membaca Al-Qur'an.
Kesimpulan
- Azan itu sunnah (hukumnya).
- Membaca
azan dengan benar itu penting, tetapi kaidahnya tidak sama
dengan tajwid Al-Qur'an, melainkan mengikuti contoh Nabi ﷺ
dalam melantunkannya.
Jadi, jawaban langsung:
Seruan azan itu sunnah, bukan tajwid.
Tajwid adalah ilmu untuk membaca Al-Qur'an, sedangkan azan
adalah seruan shalat yang disyariatkan.
Huraikan dengan lanjut dan sertakan nas-nasnya.
HURAIAN LENGKAP MENGENAI AZAN: HUKUM, SYARAT, DAN KAEDAH
PELANTUNANNYA
- Bahasa:
Pemberitahuan atau seruan.
- Istilah
Syara': Seruan khusus yang menandakan masuknya waktu shalat fardhu,
dengan lafaz-lafaz tertentu.
2. HUKUM AZAN
- Hukum
asal azan adalah sunnah muakkadah (sangat dituntut) untuk shalat
fardhu berjamaah, baik di masjid maupun perjalanan.
- Dalil
Pensyariatan:
Dari Malik bin Al-Huwairith RA, Nabi SAW bersabda:
"إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمُّكُمْ أَكْبَرُكُمْ"
"Apabila waktu shalat tiba, hendaklah salah seorang dari kalian
mengumandangkan azan, dan yang paling tua di antara kalian menjadi imam." (HR.
Al-Bukhari & Muslim)
- Status
Sunnah Muakkadah:
Ulama empat mazhab sepakat azan bukan wajib, tetapi sunnah yang sangat ditekankan. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyatakan: "Azan dan iqamah adalah sunnah muakkadah bagi laki-laki, baik shalat sendirian, berjamaah, dalam perjalanan, atau mukim." - Pengecualian
(Menjadi Fardhu Kifayah):
Dalam mazhab Syafi'i, azan menjadi fardhu kifayah bagi penduduk suatu kawasan jika ditinggalkan seluruh penduduk. Ini berdasarkan keumuman perintah azan dalam hadis dan menjaga syiar Islam.
3. DALIL-DALIL UTAMA TENTANG AZAN
a. Asal-usul disyariatkannya azan
Dari Abdullah bin Umar RA, Nabi SAW bersabda:
"إِنَّ الْبِلاَلَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا
حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ"
"Sesungguhnya Bilal azan pada waktu malam (sebelum subuh), maka makan
dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum azan (azan Subuh)." (HR.
Al-Bukhari & Muslim)
Ini menunjukkan azan telah diamalkan sejak zaman Nabi SAW.
b. Keutamaan azan
Dari Muawiyah RA, Nabi SAW bersabda:
"الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
"Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari
kiamat." (HR. Muslim)
(Panjang leher adalah kiasan untuk kemuliaan atau banyaknya pahala)
c. Pahala azan
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
"لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ،
ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا"
"Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf
pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengadakan undian,
niscaya mereka akan berundi untuk itu." (HR. Al-Bukhari &
Muslim)
4. KAEDAH DAN ADAB AZAN – BUKAN TAJWID AL-QUR'AN, TETAPI
MENGIKUTI SUNNAH
a. Lafaz azan yang tetap
Lafaz azan telah ditetapkan oleh syariat, tidak boleh
ditambah atau dikurangi:
(Contoh lafaz azan Subuh):
"اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، حَيَّ عَلَى
الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ،
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ (khusus
Subuh), اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ"
b. Sifat pelantunan azan – Bukan "tajwid" tapi
"tarannum yang diperbolehkan"
- Tarannum
(lagu) yang diperbolehkan:
Dari Abu Mahdzurah RA, Nabi SAW mengajarnya azan dengan tarji' (mengulang syahadat dengan suara pelan lalu keras) dan melagukannya dengan mad (perpanjangan) tertentu yang tidak melampaui batas. (HR. Muslim).
Ini menunjukkan adanya "lagu" atau irama khusus dalam azan yang diajarkan Nabi SAW. - Beda
dengan tajwid Al-Qur'an:
- Tajwid mengatur
detail makhraj, sifat huruf, idgham, ikhfa', dll. yang wajib dalam
membaca Al-Qur'an.
- Azan tidak
disyaratkan membaca dengan hukum tajwid seperti dalam Al-Qur'an, tetapi
disunnahkan dengan suara merdu, perlahan, dan jelas, serta
dengan mad (perpanjangan) pada tempat-tempat tertentu (seperti
"اللهُ أَكْبَرُ", "أَشْهَدُ", dll.) secara sederhana
tanpa berlebihan.
- Larangan
berlebihan dalam melagukan:
Dari Abdullah bin Mughaffal RA, Nabi SAW bersabda:
"إِنَّهُ سَيَأْتِي بَعْدِي أُنَاسٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ،
فَاغْتَنِمُوا الْقُرْآنَ قَبْلَ أَنْ يُرَفَعَ"
"Akan datang setelahku suatu kaum yang melagukan Al-Qur'an dengan
nyanyian, maka rebutlah Al-Qur'an sebelum diangkat." (HR. Ahmad)
Ini peringatan agar tidak berlebihan dalam melagukan bacaan agama, termasuk
azan.
c. Syarat-syarat muazin
- Islam,
baligh, berakal, laki-laki (menurut jumhur), adil, mengetahui waktu
shalat, dan bersuara keras.
5. KESIMPULAN TERHADAP PERTANYAAN AWAL
- Azan
adalah SUNNAH MUAKKADAH (sangat dianjurkan) dari segi hukumnya,
bukan kewajiban mutlak (kecuali dalam kondisi tertentu menjadi fardhu
kifayah).
- Azan
BUKAN TAJWID, karena:
- Tajwid
adalah ilmu khusus untuk membaca Al-Qur'an.
- Azan
adalah seruan ibadah yang lafaznya tetap, dan cara
melantunkannya mengikut sunnah Nabi SAW dengan suara
merdu, jelas, dan mad yang sederhana, tanpa terikat kaedah tajwid
Al-Qur'an.
- Nas-nas
yang jelas (hadis di atas) menunjukkan azan telah disyariatkan
dengan lafaz dan cara tertentu, yang termasuk di dalamnya tartil
(pelantunan baik) namun tidak sama dengan tajwid Al-Qur'an.
Rujukan utama:
- Al-Majmu'
Syarh Al-Muhadzdzab – Imam An-Nawawi
- Fath
al-Bari – Ibnu Hajar Al-Asqalani
- Subul
as-Salam – Ash-Shan'ani
- Al-Mughni –
Ibnu Qudamah
Kesimpulan akhir:
Azan adalah sunnah muakkadah dalam hukumnya, dan pelantunannya
mengikuti sunnah Nabi SAW, bukan terikat dengan ilmu tajwid Al-Qur'an.
Wallahu a'lam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan